Bismillah
Assalamu'alaikum
Berbicara mengenai pola pikir sebagian orang, saya pribadi kurang setuju dengan persepsi "Nyatanya nilai lebih dilihat di masyarakat". Yang mana sebagian orang menggunakan "dalil" tersebut untuk membenarkan perilaku menconteknya.
Well, alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk bisa dapetin cerita - cerita pengalaman dari rekan - rekan saya. Yang mana salah satu rekan saya, sebut saja A. Dia bercerita bahwa dia pernah melamar ke suatu perusahaan yang memberikan persyaratan minimal lulusan S1, padahal dia sendiri baru lulus SMK pada saat itu. Satu hal kelebihan dia adalah, dia punya skill yang mumpuni. Ini bukan pendapat dia pribadi ya, karena kebetulan saya sekelas dengannya di kampus, bisa saya bilang dia adalah master di jurusan kita. Ya anak sekelas kalo lagi bingung masalah ngoding (coding bahasa pemrograman) nanya nya ke dia rata-rata wkwk.
Balik ke cerita lamar pekerjaan tadi, hasilnya dia diterima di perusahaan tersebut. Dan dapat penghasilan yang terhitung lumayan untuk anak lulusan SMK. (saya sebut : 3jt rupiah)
Dari pengalaman itu, saya saring bahwa lapang pekerjaan mintanya itu skill. Toh nyatanya
Nilai adalah representasi dari Skill itu sendiri
Skill bisa ditingkatkan dengan terus melatihnya, "bisa karena biasa". Semakin banyak latihan yang kita lakukan, semakin banyak pula pengalaman yang kita dapat. Begitulah hal - hal tersebut saling berkesinambungan.
Perlu diketahui bahwa skill itu bukan hanya sekedar skill secara kasar, misalnya : jago ngoding, jago matematika, jago mengoperasikan suatu alat dll. Tetapi sejatinya skill itu dibagi menjadi dua, yaitu hardskill dan softskill. Softskill tuh semacam kepemimpinan, komunikasi, bersosialisasi dan gitu - gitu deh pokoknya. (detailnya ga akan saya bahas disini, silahkan browsing sendiri :) )
Kalo ngomong aja gabisa , gaada gunanya nilai yang kalian punya. Semua orang butuh aksi nyata, bukan angka belaka. Bila ada lowongan pekerjaan pada perusahaan yang meminta nilai pun, biasanya terdapat sesi wawancara untuk membuktikan nilai yang kita submit. Apakah nilai tersebut benar merepresentasikan diri kalian atau tidak. Apalagi perusahaan besar seperti Google atau Bukalapak yang melakukan test pada calon karyawannya. Kenapa dilakukan? Ya, mereka butuh bukti.
Mencontek adalah bentuk membohongi diri sendiri. Juga kita zhalim karena berlaku curang. Tidaklah semestinya kita buta akan tujuan yang sebenernya ingin kita raih. Bukan.. bukan tentang kaya raya. Tapi hidup bahagia. Berfikirlah lebih jauh tentang resiko dari apa yang kalian lakukan. Apakah mencontek melatih kalian dalam kebaikan ?
Berhentilah berbuat curang. Jadilah manusia yang jujur, dan taat pada agama. Jadilah manusia yang berkualitas. Khusunya kalian wahai generasi muda. Janganlah menjadi reinkarnasi para koruptor pengrogot hak rakyat. Atau mereka yang lalai dalam kekuasaan. Bangkitkanlah negeri ini, kita punya SDA yang berlimpah dan demografi yang strategis. Yang kita butuhkan adalah ''pemuda yang bijak dan cerdas yang taat pada agamanya".
Mencontek adalah bentuk membohongi diri sendiri. Juga kita zhalim karena berlaku curang. Tidaklah semestinya kita buta akan tujuan yang sebenernya ingin kita raih. Bukan.. bukan tentang kaya raya. Tapi hidup bahagia. Berfikirlah lebih jauh tentang resiko dari apa yang kalian lakukan. Apakah mencontek melatih kalian dalam kebaikan ?
Berhentilah berbuat curang. Jadilah manusia yang jujur, dan taat pada agama. Jadilah manusia yang berkualitas. Khusunya kalian wahai generasi muda. Janganlah menjadi reinkarnasi para koruptor pengrogot hak rakyat. Atau mereka yang lalai dalam kekuasaan. Bangkitkanlah negeri ini, kita punya SDA yang berlimpah dan demografi yang strategis. Yang kita butuhkan adalah ''pemuda yang bijak dan cerdas yang taat pada agamanya".
Allahua'lam
Wassalamu'alaikum wr. wb.